Hai, sepertinya banyak kemajuan yang kubuat. Mengenai mimpi, alhamdulillah, aku meraih juara kedua di osn tingkat kota. Yap, itu artinya aku jadi perwakilan ke provinsi. Juara satu diraih oleh SMA Almut. Ada sekitar satu bulan untuk mempersiapkannya. Aku harus berjuang. Semoga, kelak, aku akan mengabarkan aku masuk Nasional. Aamiin :) Juga, sebentar lagi UKK. Itu artinya, setelah itu, aku naik ke kelas 3. Begitu cepatnya waktu berlalu. Padahal, aku belum siap jika harus menghadapi masa dewasa, kuliah, and stuff. Huft
Mimpi... kemarin, aku terpikir sebuah rencana. Sebenarnya aku memikirkannya sejak lama, namun baru kali ini aku membicarakannya dengan teman. Tentang sebuah perjalanan, petualangan, pengalaman. Kami bercerita tentang menjelajahi daerah baru sebelum nanti kami berjalan sendiri2 setelah lulus. Kami ingin pergi ke tempat yang jauh dengan kereta, sebuah perjalanan yang panjang. Kemudian kami akan menjelajah tanpa tujuan, kami akan berjalan kemana saja angin membawa kami pergi. Tujuan kami? Yogyakarta. Kenapa? Murah dan destinasi wisatanya banyak. Ya, aku tahu, itu di daerah perkotaan. Ini kan hanya petualangan kecil tapi menyenangkan. Kapan ya kira2 mimpi ini terwujud. Yang lebih penting, apakah bisa mimpi ini terwujud? Kuharap bisa.
Tentang mimpi lainnya, aku ingin pergi ke luar negeri, bukan jalan2, tapi mencari ilmu. Bisa saja berupa kuliah di sana. Tapi, aku gak bisa begitu saja datang ke negeri orang. Pertama, aku harus kuat iman dulu. Apalagi jika di negara itu minoritas muslim. Kenapa? Ya tentu saja agar aku senantiasa beriman dan bertaqwa. Kedua, aku harus melancarkan bahasa inggrisku. Ketiga, aku harus pandai bergaul, mandiri, dan dewasa. Itulah tujuanku mengadakan perjalanan kecil ke Yogya, untuk mengetes sejauh mana aku bisa berdiri sendiri. Dan masih banyak lagi deh. Semoga yang satu ini juga bisa terwujud. Aamiin...
Jadi, satu bagian mimpiku sudah terwujud, yaitu ikut olimpiade biologi, dan berprestasi min.satu di SMA. Tapi mimpi OSN Nasionalnya belum nih, sedang diperjuangkan, hehe :) Bismillah^^
See you tomorrow...
Minggu, 04 Mei 2014
Tentang Mimpi
Jumat, 02 Mei 2014
Cerita Bersama Hujan ~Part2
Sudah seminggu sejak aku bertemu lelaki itu. Wajahnya, senyumnya, masih terbayang di benakku, ada satu hal darinya yang ingin aku ketahui. Aku berjalan keluar sekolah, langit mendung dan angin bertiup kencang. Tanda-tanda akan hujan. Entah kenapa, aku berharap bisa bertemu dengannya lagi, dalam hujan. Mungkin, itu akan memperbaiki kenanganku akan hujan. Setetes air hujan jatuh di telapak tanganku. Akupun berjalan cepat menuju halte bis, namun hujan mengguyur bumi lebih cepat. Terpaksa, aku pergi ke berteduh di tempat yang sama.
"Hey, kau juga ya?". Sebuah suara memecah lamunanku. Aku menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki itu. "Begitulah. Kau sendiri?", tanyaku kepadanya. Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Kulihat wajahnya sedikit basah terkena air hujan. "Sepertinya hujan datang terlalu cepat kali ini, kau kedinginan?", jawabnya sembari menyerahkan jaketnya padaku. Kami mengobrol selama beberapa menit, hingga hujan hanya tinggal rintik rintik kecil. Aku pun pamit, kuluhat ia tesenyum dari jauh. Laki-laki misterius, aku bahkan tidak tahu namanya, darimana ia datang, padahal kami mengobrol layaknya teman dekat.
***
"Kau belum pulang? Sebentar lagi hujan loh", tanya sahabatku Farina. "Hmm, nunggu hujan", jawabku santai. Tak kusangka, aku begitu terpikat pada laki2 itu, yang kutemui dua hari yang lalu saat hujan. Entah kenapa, sosoknya membawa kehangatan bagiku. Rintik-rintik hujan mulai menetesi jendela kelas. Segera, aku berlari keluar, secepat mungkin sampai di depan toko tempatku biasa berteduh. Dengan napas terengah-engah, aku melihat sosoknya. Tengah menengadah seakan mengenang masa lalu. Wajahnya tenang dan menyiratkan kesedihan. "Hai", sapaku kepadanya. Ia menoleh sambil tersenyum. "Wah rupanya belum pulang ya? Apa yg membuatmu baru keluar sekolah?". Aku menaikkan bahu dan duduk disebelahnya. "Hujan belum lama turun, knp kau tidak kembali saja dan berteduh di sekolah?", tanyanya. "Aku ingin bersamamu". Ia terlihat heran, namun sedetik kemudian ia tertawa. Kemudian meletakkan tangannya dikepalaku. "Kau mau berteman dengan asing sepertiku. Mestinya kau hati2. Bagaimana jika aku orng jahat". Aku pun menengadah melihat wajahnya. "Tidak ada orng jahat yang menceritakan kesedihannya pada orang asing". Ia kembali tersenyum. "Aku harus pergi", ujarnya sambil berdiri. Apa maksudnya? "Tunggu...", terlambat ia sudah berlari dalam hujan. Sosoknya begitu ringan makin lama tak terlihat lagi. Bahkan aku belum tahu namanya.
***
Butiran hujan membasahi jendela kelasku. Kini, aku lebih sering duduk dekat jendela, ketika hujan, aku sering menatap kosong kearah jendela, melihat tetesan air hujan yang mengingatkanku pada sosoknya. Lima hari berlalu, sejak ia mengatakan harus pergi. Selama itu pula hujan turun deras, namun tak kulihat sekalipun sosoknya itu. Kemana ia pergi, kenapa ia harus pergi juga. Kenapa orang2 meninggalkanku tanpa alasan.
Aku tak peduli lagi, meski hujan turun deras, kulangkahkan kakiku melewati jalanan yang becek. Tak peduli basah bajuku, aku terus berjalan. Namun, aku merasakan hujan tak membasahiku lagi, dan sebuah bayangan bediri di hadapanku. "Apa-apaan kau ini. Kau bisa sakit", ujar suara itu. Sebutir air mata jatuh ketika aku tahu suara siapa itu. Lelaki itu. Tanpa sadar, aku memeluknya hingga ia hampir terpental ke belakang. "Hey, hey, jangan mengangis, ayolah, ada apa?", ujarnya sambil mengusap pipiku dengan lembut. "Aku tidak menangis, ini butiran hujan", jawabku sambil mengusap mata dengan punggung tangan. Kurasakan tangannya mengangkat daguku melakukan kontak mata. "Jangan bohong. Maaf, aku meninggalkanmu. Mau kuberitahu satu hal?, tanyanya padaku. Aku hanya mengangguk. "Aku juga sering, menangis ditengah hujan, karena ketika itu, orang-orang tidak akan melihatmu meneteskan air mata. Tapi, hanya orang2 yang menyayangimulah yang dapat melihatmu sedih meski serumit apapun kau menyembunyikannya". "Apakah kita ditakdirkan bersama?". "Aku tidak tahu, tapi kita buktikan saja bagaimana?". "Bagaimana caranya?". "Akan kutunjukkan, naiklah", ujarnya menuntun lenganku mendekati jalan raya. Rupanya, ia menaiki sebuah motor, dengan penasaran kuikuti kemauannya. Kami berkendara ditengah hujan. Tanpa kusadari, motor ini melaju dengan cepat. Aku mulai khawatir. "Hey, tunggu, pelan sedikit, aku takut". Aku mulai melingkarkan tanganku ke pinggangnya, memegangnya dengan erat. Tiba-tiba tangannya yang beku memegang tanganku erat. "Kau akan tahu. Jika kita jodoh, kita akan mati bersama", ujarnya dengan lembut. Sebelum kucerna dalam2 makna katanya, ia mendorongku kesamping, kurasakan tubuhnya memeluk erat tubuhku. Semua berlangsung dalam sekejap. Kurasakan sakit disekujur tubuh. Begitu tersadar, aku terbaring di rerumputan, dipinggir sebuah sungai yang alirannya deras. Aku melihat sosoknya, damai, seolah tak bernafas, ia tersenyum.
Hatiku berdebar, wajahku memucat, kurasakan sakit di dada, seketika itu juga aku berteriak dan menangis lebih kencang. Ia disana, terbaring kaku, tubuhnya berlumuran darah yang mengalir terbawa oleh air hujan. "Apa-apaan kau ini? Apa maksudmu? Hey bangun!! Aku bahkan belum tahu namamu. Bangu....n. Kumohon". Aku memeluk tubuhnya erat. Aku menempelkan kepalaku ke dadanya, hening, tidak ada detak jantung disana. Kugenggam tangannya. Saat itulah, kurasakan sesuatu dalam tangannya, seperti kertas. Aku membuka tangannya, kutemukan secarik kertas dan saputangan. Aku berusaha duduk.
Hai, sudah kuduga kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Aku tidak pantas untukmu. Biarkan aku membuktikannya. Menyedihkan bukan? Melihatku seperti ini. Tapi, inilah aku, aku sudah putus asa untuk hidup, sudah lama aku berencana untuk pergi. Namun, bayanganmu terus menghantui, aku takut, kau bersedih dengan kepergianku. Aku mengawasimu, dalam hujan. Melihatmu menunggu dan mengharapkan kedatanganku di depan toko itu. Kau begitu tabah. Aku takut jika memang aku ditakdirkan untukmu. Aku jauh dari kata pantas untuk gadis sepertimu. Aku tidak ingin pergi meninggalkan jodohku, namun, jika aku pergi bersamanya maka tidak ada yang akan sedih akan kepergianku. Aku bukan jodohmu, syukurlah, kau memang pantas mendapatkan yang lebih baik. Sekarang, lupakan aku, sungai ini akan membawaku ke ayah dan ibuku. Aku mendoakanmu bahagia. Selamat jalan
Bastian
P.s: Terimakasih, telah membuat hari2ku lebih indah walau untuk beberapa saat.
Air mata kembali menghiasi wajahku, bercampur dengan tetesan air hujan. aku menatap kosong tubuhnya. "Shut the door... turn the light of... i wanna be with you... i wanna feel your love... i wanna live beside you... i cannot hide this...even tough i tried" Hujan turun dengan deras, kurasakan air sungai mulai meluap, membasahi kakiku. Kutatap air sungai di kakiku. Sebuah pemikiran muncul sejenak "Hands are silent... voices numb... try to scream out my lungs... it makes this harder... and the tears stream down my face..." Aku mengangkat tubuhnya dengan susah payah. Aku berdiri di tepi sungai, alirannya sangat deras. "I'll find the words to say, before you leave me today" Byurr... Kurasakan dinginnya air sungai, menyelimuti kami berdua. Kurasakan nafasku mulai berat, air memasuki hidungku, kupaksakan untuk membuka mataku, melihat wajahnya yang pucat, tepat di pelukanku. Brak, Kraak, Kraak. Semua tiba-tiba gelap, aku tidak bisa lagi merasakan tubuhku. Biarlah, biar seperti ini. Aku sudah pergi bersamamu.
~
Sepenggal Pengalaman
1.
Salah satu impianku adalah pergi sendiri, menjelajahi tempat2 yang belum pernah aku kunjungi. Sampai saat ini aku belum pernah melakukan hal itu. Namun, suatu hari tanggal 7 juni 2012, aku memulai perjalanan kecilku sendirian ke jakarta.
Memang dimata orang, itu merupakan hal sepele, namun bagiku itu adalah pertama kalinya aku pergi ke luar kota, sendirian. Jadi, hari itu sebenarnya adalah hari ulang tahun papa-ku. mama, adik, dan aku sudah mempersiapkan hadiah untuknya. Tapi, berhubung papaku bekerja di jakarta, kami tidak bisa memberikannya saat itu juga. Tiba-tiba mama mendapat ide, kalau aku saja yg menyusul ke jakarta, karena kebetulan aku libur sekolah. Ya sudah, esoknya yaitu hari kamis ±pukul 10 wib, aku diantar sampai pull primajasa untuk naik bis jurusan tasikmalaya-cililitan. Waktu itu, aku senang, membayangkan sepanjang perjalanan aku bisa menikmati kesendirianku, Siapa yang akan duduk disebelahku, apa yg akan kulakukan untuk mengusir bosan, dsb. Ketika bis berangkat, hanya ada beberapa penumpang didalamnya, aku pun memilih tempat duduk di barisan tengah dekat jendela. Untuk jaga2 aku membawa satu novel kesukaanku dan makanan yang akan mengganjal perutku jika lapar. Lama rasanya menunggu bis keluar kota tasik, karena, dari pull primajasa, bis harus mampir dulu di terminal. Sesampainya di daerah bandung, penumpang banyak berdatangan, dan ada seorang ibu yang duduk disebelahku. Ia bertanya kemana tujuanku dan untuk apa, dan akupun menjawab seperlunya saja. Sesampainya di tol, cuaca semakin panas, dan perjalanan masih jauh. Barulah saat itu aku berpikir, jakarta itu jauh loh, bisa 5-6 jam perjalanan. Kok bisa ya aku berani pergi sendiri naik bis, karena lelah tanpa sadar aku pun tertidur. Aku terbangun oleh suara handphone sendiri. Ternyata papa menelepon, aku ngobrol sebentar dan papa berpesan untuk mengabari lebih lanjut jika sudah keluar tol. Karena lapar, akupun memakan bekal yang dibawa. Tak lama kemudian, bis melaju keluar tol, setelah berputar2 di daerah perkotaan, akhirnya bis sampai di terminal cililitan. Aku mencari2 sosok papaku sedang berdiri diantara kerumunan orang yg akan menjemput penumpang juga. Ketika turun dari bis, fiuh rasanya senang bisa selamat sampai tujuan, aku ingin melakukannya kapan2 lagi. Papa menghampiriku dan aku pun mengucapkan selamat ulang tahun sembari menyerahkan hadiah yang jauh2 kubawa dari tasik. Akhirnya papa mengajakku solat karena waktu sudah menunjukkan pukul 4. setelah solat, kami mampir di warung nasi dan makan hingga kenyang.
2.
Pengalaman aneh ini kudapat ketika liburan semester kemarin. Sehabis lima hari liburan di jakarta bersama adik, papa, dan mamaku, kami pulang ke tasik menggunakan jasa kereta api. Kami berangkat dari stasiun kota naik kereta ekonomi. Dengan menggunakan kereta, kami menghindari macet walaupun waktu yg diperlukan lebih lama dripada naik bis atau mobil. Ketika akan berangkat, tidak ada kejadian aneh, semuanya lancar2 saja. Kecuali mungkin kejadian di gerbong tempat aku duduk dimana Ada sekeluarga yang kebingungan dengan tempat duduknya yang terpisah2. Namun, ketika kereta sampai di daerah ciawi, kereta yg kutumpangi mulai mengalami keanehan. Mula-mula jalannya lambat sekali, dan sesekali di rem. Ujung-ujungnya, kereta tersebut berhenti di tengah jalan. Tidak ada yang tahu kenapa, penumpang mulai bertanya2 dan keluar dari tempat duduk. Bahkan diantaranya keluar gerbong. Rupanya, ada kesalahan pada rel kereta, salah satu bautnya lepas dan berbahaya. Jika dilewati bisa saja rel patah dan kereta anjlok. Sebelumnya ada kereta yg lewat rel tsb, namun keadaan baik2 saja. Sepertinya, keadaannya tidak memungkinkan untuk dilewati satu kereta lagi sehingga rel harus di perbaiki saat itu juga. Dengar2, teknisinya didatangkan dari tasik dan perlu waktu lama untuk memperbaiki. Akhirnya perjalanan ditunda sekitar satu jam. Bosan sekali, namun bersyukur juga. Karena, jika kereta tidak berhenti mungkin saja kereta ini anjlok dan tertunda lebih lama kan?. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya petugas menyuruh penumpang untuk masuk kembali ke gerbong karena kereta akan kembali melaju. Sesudah itu, keadaan kembali normal, yang terdengar hanya bisik2 orng yang menceritakan kejadian tadi. Kereta pun sampai di stasiun tasik, dan aku sekeluarga sampai tujuan dengan selamat. Alhamdulillah.
3.
Study tour tahun ini, menurutku adalah yang terbaik yang pernah kualami. Kenapa tidak? Aku bisa bersenang2 dengan teman2 yang menyenangkan. Terlebih ketika pengalamanku di dunia fantasi ancol. Ketika smp, aku tidak pernah terpikir untuk naik wahana hysteria. Entah kenapa, membayangkannya saja membuat adrenalinku terpacu. Bisa dibilang, aku tidak punya keberanian untuk naik wahana tersebut, terlalu mengerikan. Namun, ketika bersama exogenous, semua itu berubah. Padahal, kami baru saja masuk ke kawasan dufan, dan baru mencoba naik kora2. Tak kusangka, mereka melanjutkan untuk naik hysteria. Waktu itu aku bimbang, ingin ikut, tapi masih ada sedikit rasa takut untuk mencoba. Tapi, aku sudah bertekad kalau aku harus mencoba menaiki wahana itu minimal sekali seumur hidup, dan kesempatan itu datang sekarang. Aku melihat teman2 yang lain, hampir semua ingin naik wahana hysteria. Mungkin terbawa suasana, atau mungkin sedang bersemangat, aku pun ikut mengantri bersama yang lain. Baru mengantri saja sudah berdebar2 apalagi ketika akan naik. Tapi, membayangkan kepuasan yang akan kudapat nanti, akhirnya ketakutanku hilang. Akhirnya tibalah giliranku dan teman2 menaiki wahana tersebut. Aku segera duduk dan memastikan pengaman sudah terpasang kuat. Suara mesin yang dinyalakan, membuat ketegangan semakin bertambah, wahana itu dinaikkan sedikit, lalu turun dan wuush! Dengan cepatnya wahana itu meluncur keatas, sampai aku merasa tubuhku terlempar. Dan dengan cepat pula wahana itu turun ke bawah, membuat jantung seakan berhenti sebentar, secara spontan semua orng berteriak, termasuk aku. Kupegang erat busa pengaman yang menahan tubuhku, tidak terbayang jika pengaman tsb lepas dan entah bagaimana nasibku selanjutnya. Namun, setelah beberapa detik yang menegangkan, wahana itu bergerak naik turun dengan pelan. Membuatku bernapas lega, bahkan ketika aku membuka mataku, aku bisa melihat pemandangan yang indah. Laut terbentang luas dihadapanku seakan tanpa ujung. Lambat laun, pemandangan itu tak terlihat dan aku sudah bisa menginjakkan kaki ditanah lagi. Kami keluar ramai2 dan berkicau ini itu. Sungguh kepuasaan sendiri bagiku karena telah menaklukan ketakutanku akan ketinggian dengan menaiki hysteria. Bahkan mulai dari saat itu jika ada kesempatan, aku ingin naik lagi, lagi, dan lagi, dan lagi.