Wajahku menekuk, kulihat dengan putus asa hujan yang deras ini. Biasanya aku cukup berjalan kaki untuk sampai di halte bis terdekat, tapi hujan yang turun ditengah perjalanan terpaksa membuatku berhenti di teras sebuah toko yang tutup. Banyak orang selain aku yang ada disana. Ada yang menaiki motor, ataupun anak sekolahan yang bernasib sama denganku. "Kau membenci hujan?", suara seseorang membuyarkan lamunanku. Kulihat orang itu. Rupanya ia seorang laki-laki dengan seyuman yang menghiasi wajahnya dan matanya bersinar jenaka. Aku mengalihkan pandanganku berusaha tidak melakukan kontak mata dengannya. "membenci hujan..itu tidak aneh bukan?", jawabku singkat.Tak kusangka ia duduk di sebelahku dan tersenyum kecil, senyum yang seolah berkata itu memang tidak aneh. "Ya, itu tidak aneh, tapi aku menyukai hujan sekaligus merasa takut", kulihat pandangannya seperti menerawang jauh seolah mencari ingatan yang sulit baginya. "Kau takut hujan? Hmph.. sekarang kau yang aneh", ucapku sedikit geli. "aneh? memang iya. hujan membawa kenangan pahit dan kenangan indah"
"Aku dilahirkan dari sebuah keluarga kecil dimana orang tuaku saling bertemu saat hujan disebuah restoran kecil. Mereka memadu cinta dan akhirnya membangun sebuah keluarga. Mereka berhasil memiliki aku dan disaat aku lahir, hujan turun ke bumi seolah menangis terharu. Hujan juga, membuat aku kehilangan mereka. Orang tuaku. Mereka dalam perjalanan saat hujan turun dan sebuah mobil menabrak mobil orang tuaku. Saat itu hujan deras dan pandangan terbatas, tapi mobil yang menabrak tersebut berada dalam kecepatan tinggi dan.. aku hanya tahu tubuh mereka tidak ditemukan karena terpental ke sungai. Sejak saat itulah aku merasa, hujan juga akan menjemput nyawaku"
Hening menyelimuti kami berdua. Kurasakan pandangannya yang masih menerawang ke arah hujan. Akupun memecah keheningan saat itu. "Maaf soal orangtuamu. Tapi, kenapa kau mau bercerita kepadaku?". Lelaki itu melihat kearahku dan tersenyum sedih, senyuman yang membuat hatiku iba. "Karena ketika melihatmu, aku merasakan hal yang sama diwajahmu. Wajah yang sedih akan datangnya hujan. Apa kau punya kenangan buruk juga?", ujarnya terus terang
Bagaimana dia tahu? ujarku dalam hati, aku tak sanggup untuk berbohong padanya akhirnya, aku memberitahunya. "Baiklah, ini tidak sesedih ceritamu dan aku saja yang konyol terlalu larut dalam kesedihan. Aku mempunyai seorang kekasih dulu, tapi ia meninggalkanku disaat hujan. Bukankah itu konyol?"
"Hmph.. tidak. Tapi itu menarik. Lihatlah bahkan ceritamu bisa menghentikan hujan ini, dan lihat pelangi itu indah seperti wajahmu. Aku harap mempunyai pelangi seperti itu di wajahku juga", ucapnya jenaka.
Ekspresinya sungguh berbeda, ia ceria pandai menyembunyikan kepedihan terdalamnya. Bahkan jika dia tidak menceritakan kisahnya aku akan mengira dia baik-baik saja. Aku tersenyum kepadanya dan ketika aku hendak melangkahkan kakiku ia hanya melihatku dari kejauhan.
...
0 komentar:
Posting Komentar