Ingatkah ketika kita masih seperti ini? Anak lugu dengan senyuman manis yang selalu menghiasi hari-hari. Memegang boneka kesayangan, membuat ibu kita bahagia dengan tingkah yang kita lakukan. Bersikap manis dan penurut. Begitupun dengan Karla. Karla adalah seorang gadis kecil yang lugu. Hatinya masih suci, hal itu terbukti dari senyuman manis yang menenangkan hati orang-orang yang melihat. Karla memiliki sifat bagai malaikat. Ia penurut, tidak pernah membangkang dan.. mau menolong siapa saja.
Kini Karla sudah berusia 13 tahun. Ia bersekolah di sekolah terbaik yang pernah ada. Sekolah megah dengan bangunan tinggi menjulang berwarna putih segar. Di dalamnya terdapat taman dengan segala macam burung berterbangan, meliuk dari pohon ke pohon, berkicau, menyanyikan lagu merdu untuk siswa sekolah tersebut.
Sekolah apa itu? Namanya Angels School. Tempat anak-anak dengan sikap seperti malaikat dan wajah semanis madu. Tentu saja dari golongan miskin ataupun kaya. Meskipun, gedung yang menampung golongan yang bertolak belakang itu terpisah, anak-anaknya tetap rukun menjalin persahabatan. Satu-satunya yang memisahkan gedung miskin dan kaya adalah sungai. Sungai dengan jembatan kecil namun indah.
Jembatan itulah yang membantu Karla tetap berhubungan dengan sahabatnya Wanda. Karla sendiri menempati gedung si Kaya, yang fasilitasnya lebih memadai karena dibantu juga oleh dana perorangan. Misalnya bioskop mini yang dibangun di sebelah gedung sekolah, tempat anak-anak menonton hiburan. Hanya siswa si Kaya yang gratis memasuki bioskop tersebut, dan siswa si Miskin? membayar sejumlah uangnya untuk masuk.
Di Bioskop itulah Karla pertama kali bertemu Wanda, ketika pemutaran film kemerdekaan dibuka. Karla menemukan Wanda yang hanya memandangi bioskop itu, seperti orang yang enggan masuk. Karla menyapanya dan membelikannya tiket agar masuk ke bioskop. Wanda dan Karla pun berteman.
Hari ini Karla dengan Wanda berselisih paham. Keduanya berdebat mengenai gedung sekolah masing-masing. "Gedung mu memang bagus Karla, namun lihat suasananya begitu penuh harmoni di gedungku.Ada hawa yang lebih baik disini", ucap Wanda kepada Karla. "Itu nonsense, aku tidak merasakannya! Gedungku penuh fasilitas canggih yang tak ada disini, digedungmu! lagipula tatakrama kami lebih bagus, kami tidak mencari pertengkaran dan tidak menyombong", Karla mengelak.
Wanda mengernyitkan alisnya dan seketika memegang tangan sahabatnya itu. "Nona Karla, apa yang telah kau sebutkan itu menyombong. Dan jujur saja, aku tidak tertarik dengan semua fasilitas canggih di gedungmu!Gedungku punya sesuatu yang gedungmu tak mungkin ada dan itulah yang membuat kami lebih indah daripada yang lain, Nona"
"Tunjukkan padaku apa itu, Nona yang pandai merangkai kata. Aku penasaran kenapa hal itu tidak mungkin ada di gedungku. Maksudku kami bisa mendapatkan semuaaa yang kami inginkan", ujar Karla sembari marah.
"Sesuatu itu adalah CINTA sayangku.. kau tidak akan merasakannya kecuali kau masuk menjadi bagian dari cinta gedungku. Yaitu cinta yang ditebarkan dari seluruh siswa yang menempatinya. Cinta membuat kami semua jadi keluarga, mau berbagi dan tidak memandang kasta. Lihat gedungmu dan siswa-siswanya. Setiap hari kelakuan kalian diatur oleh peraturan menjadi seorang bangsawan, bukan oleh cinta. Kesannya terlihat kaku Karla, tidak harmonis sama sekali. Kebebasan berbicara satu-sama lainpun terbatas. Lihat saja dirimu berbicara dengan kata yang sekilas indah tapi itu bukan komunikasi, kalian hanya bicara sendiri", Wanda menjelaskan panjang lebar.
"Aku..tidak mengerti. Semakin hari berbicara denganmu semakin aneh, kau tidak lagi berbicara hal logis. Kau .. kau berbeda sekarang", tanggap Karla sembari hendak meninggalkan Wanda sendiri
"Nah itulah buktinya, kau tidak berkomunikasi. Kalian hanya membicarakan apa yang diajarkan kepada kalian, tidak berbicara soal yang lain, misalnya kesukaan atau apapun itu", ujar Wanda yang juga kesal
"itu hal konyol dan tidak penting! sudahlah, aku pergi saja ke gedungku, biar semua ocehanmu dan cintamu itu hilang dariku". Karla benar-benar pergi, Wanda hanya melihatnya dengan setengah kecewa. Kasihan ia tumbuh tanpa cinta ujar wanda dalam hati.
Karla tiba dirumah, ia merenung sebentar. Memang benar sih, ia merasa berbicara dengan oranglain hanya ketika ia berbicara dengan Wanda.Ketika ia berbicara dengan siswa gedung si Kaya, ia tidak merasa sedang berkomunikasi, ia merasa seperti memberitahu hal yang tak penting lagi baginya. Rupanya benar apa yang dikatakan Wanda, bahwa cinta itu penting baginya. Karla melihat orang tuanya yang begitu akrab satu sama lain. Ketika ia bertanya mengapa bisa terlihat begitu harmonis? Ibunya menjawab karena cinta yang tulus. Ia melihat Paman dengan anaknya yang terlihat begitu menyayangi satu-sama lain. Itu juga karena cinta dari seorang ayah kepada anaknya.
Ibunya lalu menjelaskan kepada karla, "Ketika kau kecil kau yang bahkan belum mengenal kata tersebut sudah membawanya sayang. Kau bersikap manis, dan itu datang dari hatimu. Secara tidak sadar kau membuat ibu bahagia. Cuma itulah yang engkau tahu, kau bahkan tidak tahu bahwa itu dilakukan karena kau hanya tahu cinta kepada ibu. Sekarang perlahan cintamu pada ibu menghilang karena kau mengenal cinta yang lain. Seperti kepada sekolahmu, ataupun temanmu. Cinta memang tak dapat dibagi. Setiap orang memiliki kadar cintanya sendiri, tapi pikiranmu dapat menutup hatimu sehingga cinta hilang darinya. Seharusnya semua itu seimbang, setiap pemikiran baik atau benar harus dilandasi cinta agar segalanya lebih indah"

"Oh ibu.. maafkan Karla, Karla tidak tahu Karla berubah begitu mengerikan. Tanpa cinta yang Karla berikan lagi kepada ibu. Karla mengerti sekarang, terimakasih bu", ujarnya sambil memeluk ibunya.
Kini Karla kembali hidup dengan cinta yang tulus yang ia berikan kepada orang-orang disekelilingnya. Terlebih kepada Ibu, Ayah, dan teman-temannya.Ia kembali menjadi anak yang baik hati dan senyumannya kembali putih suci bersinar menebarkan kebahagiaan.
-Annisa M, dengan segenap kecintaanku kepada IBU :)